ads

Kupang Butuh Banyak Perubahan ke Arah yang Lebih Baik

Article Allen Fernandez berpose bersama karyanya “Nona Tenun”. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

Pameran 10 Perupa NTT bertajuk ‘Nusalontar: Pilar Seni Rupa Indonesia Timur’ merupakan media visual guna memberikan gambaran sosio-kultural daerah NTT yang kaya dengan keindahan alam, keunikan budaya material serta immaterial.

JAKARTA-KABARE.CO: Sebanyak 10 perupa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur menggelar pameran bertajuk ‘Nusalontar: Pilar Seni Rupa Indonesia Timur’ di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 9-13 Juli 2017.  Mereka adalah Aim Pranamantara, Allen Fernandez, Apri Manu, Fecky Messah, Ferry Wobang, Jacky Lau, Maryam Mukin, Peri Katemak, Tinik Royaniwati, dan Yopie Liliweri.

Allen Fernandez adalah salah satu seniman muda kelahiran Kupang 11 November 1988 yang diwawancara Kabare.co. Perempuan cantik yang menempuh pendidikan Magister Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya ini mengangkat tema pendidikan dan budaya NTT. Menurutnya di Indonesia khususnya di daerah Kupang NTT butuh banyak perubahan ke arah yang lebih baik.

 

Kamu menampilkan berapa lukisan dan mengangkat tema apa saja?

Aku bawa empat lukisan temanya tentang surealisme. Beberapa di antaranya bercerita mengenai pendidikan di NTT, ada juga yang berdasarkan dari tema kuratorial seperti kain tenun, asal usul kain tenun dan keindahan alam NTT.

Lukisan Allen Fernandez berjudul 'Telinga'. (Foto: Kabare.co/ Baskoro)

Ini sangat menarik, judulnya apa dan apa yang ingin kamu sampaikan?

Ini judulnya ‘Telinga’ dilukis di atas kanvas dengan cara ‘digital painting’ menggambarkan pembohongan publik pemerintah daerah. Salah satu contohnya, di Kota Kupang masih sangat terikat sama sistem dari atas, jadi susah untuk merealisasikan semua yang pemerintah bilang kepada masyarakat karena masih terikat sama sistem dari atas.

Jika publik melihat lukisanmu, apakah pesan yang ingin kamu sampaikan bisa diserap?

Saya harap bisa tersampaikan, karena pendidikan di Kupang itu masih butuh banget perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi bukan hanya pesan ‘Ayo kita membangun pendidikan yang baik’ tapi semua itu hanya berupa janji-janji saja. Menurut saya di daerah yang terpencil bukan hanya di Kupang masih sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah.

Selain ‘Telinga’ apalagi yang kamu pamerkan?

Ini judulnya ‘Login’ dilukis di atas Kanvas dengan cara digital painting. Lukisan ini terinspirasi dari anak-anak SMA yang mengikuti pendidikan yang diajarkan oleh guru-guru yang terlalu mengikuti sistem dari pemerintah. Padahal ide-ide dari anak-anak itu benar-benar luas tetapi system pembelajaran yang diajarkan seakan membentuk mereka menjadi pribadi yang terkotak-kotak.

Lukisan Allen Fernandez berjudul ‘Login’. (Foto: Kabare.co/ Baskoro)

Masih banyak guru yang mendoktrin anak didiknya harus serupa dengan mereka, beberapa di antara mereka mengatakan “Kamu harus gini, kamu harus begitu. Tidak baik kamu ikut seni,” tapi nyatanya seni itu yang bisa membangun kita jadi lebih baik.

Hal-hal semacam itu yang saya coba gambarkan melalui lukisan dengan kabel tertancap dari buku ke kepala yang memiliki makna apa yang diikuti oleh anak didik tidak bisa berkembang dari apa yang disampaikan oleh gurunya. Mereka seakan harus belajar dari buku tertentu dan tidak boleh mengambil ilmu dari buku lain. Ya seperti itu yang ingin saya sampaikan.

Selain kabel, kamu juga menggambarkan burung, apa maknanya?

Burung ini saya maksudkan seperti ide anak-anak. Jadi dia mengambil kertas-kertas ilmu yang ditandain oleh gurunya untuk belajar. Tapi burung ini memiliki jiwa bertualang, ada semacam rasa untuk tidak harus menjadi terkotak-kotak. Burung ini saya gambarkan bahwa ilmu itu bisa berkembang lewat apa saja seperti seni dan musik yang dianggap tidak akan berhasil.

Kamu juga menggambarkan dua wajah di lukisan ini, artinya apa?

Ini wajahnya ada dua, yang kecil menggambarkan kemauannya dia untuk lepas dari semua sistem yang seakan dibuat terkotak-kotak, tetapi wajah yang satunya tetap mengikuti apa yang dimau oleh guru dan sistem sekolahnya. Jadi dia yang saya gambarkan terpaksa ikut dan tidak bisa melihat atau tidak bisa melakukan apapun yang dia mau. Ini juga tergambar serupa pada sistem pendidikan di NTT yang masih kurang tenaga pengajar pendidikan bagus dan beragam masalah lainnya juga.

Menarik sekali pesan yang ingin kamu sampaikan, dua lukisan lagi berkisah tentang apa?

Berikutnya ada “Nona Tenun” yang saya ambil dari pola-pola kain tenun, kain sotis, dan tenun lotis yang dilukis di atas Kanvas dengan cara digital painting. Lukisan ini saya gambar dari wajah teman saya yang kebetulan dia suka memakai kain tenun dari Kabupaten Manggarai, dan di lukisan itu ada lambang sotis yang berarti lontar.

Lukisan Allen Fernandez berjudul ‘Nona Tenun’. (Foto: Kabare.co/ Baskoro)

Melalui lukisan ini saya ingin sampaikan bahwa, NTT kita itu punya banyak sekali budaya, banyak sekali kearifan lokal. Pola-pola yang disampaikan itu berdasarkan dengan apa yang terjadi di masyarakat. Seperti mereka itu sehari-hari naik kuda dan pola-pola kuda itu ditempelkan ke tenun. Ada juga pola yang menggambarkan ritual yang masih dapat ditemukan di NTT, seperti aliran dinamisme animisme yang percaya terhadap arwah leluhur.

Lalu karya seni yang terakhir berkisah tentang apa?

Karya saya yang terakhir adalah kain tenun yang disambungkan yang terdiri dari sembilan panel 1 x 1 meter dengan motif yang berasal dari masing-masing daerah perupa dibuat dengan medium campur. Kalau karya aku mengambil dari kain tenun Sumba. Di daerahku itu banyak sekali kearifan lokalnya, pola-pola yang dipakai masih sangat natural. Jadi dalam gambar saya ada kuda, ada rusa, terus ada anjing anjing liar yang masih berkeliaran di sana. Dan itu masih terlalu natural, pola-pola yang disampaikan itu berdasarkan keindahan Sumba sendiri.

Tenun Nusa Lontar dari sembilan perupa. (Foto: Kabare.co/ Baskoro)

Setelah menggelar pameran ini, kedepannya apa yang akan kamu lakukan?

Kedepannya saya butuh banyak belajar lagi, karena menurut saya teman-teman sembilan perupa yang lain itu benar-benar sudah makan asam garam banyak di bidang seni. Mereka sudah banyak sekali pengalaman, sementara saya baru mulai melukis sekitar 3 tahun terakhir. Meskipun begitu semua inspirasi saya datang dari kondisi fenomena yang ada di Kupang.

Kupang itu terkenal bagus wisatanya tapi kamu tahu Kupang itu bisa dikatakan sebagai daerah paling miskin di Indonesia. Di dalam kemiskinan banyak daerah yang sangat bagus, bahkan bisa dikatakan salah satu wisata yang paling bagus yang bisa mendatangkan wisatawan. Bahkan ada salah satu dari tujuh keajaiban dunia seperti Manggarai dan itupun dikelola oleh orang luar.

Dengan menyampaikan pesan lewat seni mungkin bisa lebih efektif ketimbang saya menjadi seorang birokrat yang butuh banyak orang. Menurut saya seni bisa mengglobal dan bisa menyampaikan pesan ke semua orang bahwa ternyata Kupang sangat indah, ya walaupun memang lukisan saya mungkin masih sedikit dilihat oleh orang. Meskipun begitu saya dengan apa yang saya lakukan melalui lukisan dengan aliran surealisme ini bisa berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

(Baskoro Dien)

ads
Berita Terkait
Komentar

ads