ads

Kembali Ke Jalan Kebudayaan

Article Romo Mudji Sutrisno SJ. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

Sebelum bangsa Amerika lahir dan gembar-gembor membicarakan plularisme, jauh sebelum itu Nusantara sudah mencatat Bhinneka Tunggal Ika dari kitab Sutasoma pada abad ke-14. Bahkan jauh sebelum itu Borubudur sudah mencatat plularisme melalui relief Gandawyuha di abad ke-8.

JAKARTA-KABARE.CO: Sebelum Nusantara menjadi Indonesia, bangsa ini adalah bangsa yang kultural, majemuk, beragam, saling toleransi baik dalam menjaga tradisi-tradisi dan kebijaksanaan mengenai bagaimana harus hidup.

Setelah Indonesia merdeka, seolah kebhinekaan itu luntur, banyak hal yang dibenturkan oleh pihak-pihak yang tidak mengiinginkan Indonesia maju dan berkembang, padahal jauh sebelum bangsa Amerika lahir 200 tahun lalu, Nusantara sudah menerapkan paham Bhineka Tunggal Ika. Ironisnya bangsa ini bertikai dalam persoalan yang sama, seperti krisis keyakinan beragama, masalah suku dan ras.

Hal ini juga bisa dilihat dari agama yang diakui oleh negara yang hanya berjumlah enam. Padahal jauh sebelum itu Nusantara menghidupi banyak agama, kepercayaan dan keyakinan lokal.

“Kita sudah jauh lupa bahwa Nusantara itu beragam, melalui Borubudur Writers & Cultural Festival 2017, dengan tema Gandawyuha dan Pencarian Religius Agama-Agama Nusantara, kami ingin menghidupkan kembali toleransi yang dulu menjadi jati diri bangsa. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap suku, agama atau ras tertentu yang ada di Indonesia,” ucap Romo Mudji Sutrisno budayawan Indonesia di Jakarta, Selasa (14/11).

Romo Mudji menuturkan, ketika Jalan Kebudayaan tergantikan oleh Jalan Konstitusional Politik banyak lahir reduksi-reduksi yang mengkerdilkan apa yang menjadi nilai hidup. Borubudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2017 menganggap relief Gandawyuha sangat relevan untuk dibicarakan di tengah fanatisme dan intoleransi agama saat ini. BWCF menganggap bahwa pencarian Ketuhanan dalam kisah Gandawyuha ini sangat universal dan menjadi cermin tingkat toleransi agama.

Gandawyuha merupakan kisah esoteric Agama Budha Mahayana mengenai anak muda bernama Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Kisah suci ini diperkirakan muncul pada awal abad 1 Masehi di India Selatan dan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Candi Borubudur sendiri mengabadikan 460 buah panel relief Gandawyuha yang dipahatkan pada dinding lorong dua, tiga, dan empat.

Konferensi pers Borubudur Writers & Cultural Festival 2017. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

 

Ketika Bung Karno merumuskan dasar Pancasila pada 1934 di Ende untuk mempelajari lebih jauh soal agama Islam dan pluralisme, Sila pertama dituliskan sebagai Ketuhanan yang berkebudayaan dan berbudi pekerti. Bung Karno juga terinspirasi dari Kerajaan Majapahit yang menekankan Bhineka Tunggal Ika. Namun jauh sebelum dua kisah itu, Gandawyuha sudah berkisah tentang plularisme, berkisah tentang kebenaran hidup.

Sesungguhnya bangsa Indonesia memiliki basis ikatan religius yang kuat seperti dituliskan dalam Pancasila. Jika masyarakat bisa kembali memahaminya dan menjadikan dasar negara, maka masyarakat tidak akan terjebak kedalam krisis politik, krisis ekonomi dan krisis zaman.

Ketika komputer sudah mengontrol hidup, lambat laun masyarakat menyadari bisa diubah keyakinannya dalam sekejap, seperti kecepatan yang ditampilkan oleh komputer, seperti fanatisme yang menyebar cepat melalui komputer, belum lagi berita bohong (Hoax) dan radikalisme.

Untuk itu penting untuk kembali mejadi pribadi yang sempurna, salah satu caranya dengan meditasi, menari, meraga jam (menghayati waktu yang kita habiskan) dan kembali ke Jalan Kebudayaan.

Ketika jalan politis membuat masyarakat kisruh, bertikai dan haus kekuasaan, jalan ekonomi membuat kita haus akan uang, maka kembalilah ke jalan kebudayaan yang membuat kita tentram. (Bas)

 

(Baca juga: Bahasa Indonesia, Bahasa Plural yang Terus Berkembang)

(Baca juga: Bre Redana dalam Buku New Urban Sensastion!)

(Baca juga: Mengenal Batik Naskah Pakualaman)

ads
Berita Terkait
Komentar

ads