ads

Celeng Butet Kartaredjasa

Article Butet Kartaredjasa dan celeng-celengnya. (foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

Celeng atau babi (hutan) sering digambarkan sebagai lambang kekayaan atau kemakmuran, tapi juga lambang sifat rakus, tamak dan bahkan jorok. Melalui celeng Butet Kartaredjasa menyampaikan kritik dengan cara unik.

JAKARTA-KABARE.CO: Dalam budaya Jawa dikenal istilah celengan, yaitu semacam wadah atau brankas untuk menyimpan uang atau barang berharga yang biasanya terbuat dari gerabah. Tentu, wadah itu tidak selalu berbentuk celeng atau babi hutan, tapi semuanya akan disebut sebagai celengan. Istilah atau penggambaran celeng juga dikenal luas oleh masyarakat Eropa dengan piggy bank (dari kata pig: babi) sebagai kebiasaan menabung dan menyimpan uang ke dalam wadah tertentu.

Dalam tradisi Jawa dan Sunda juga dikenal mitos babi ngepet atau celeng jadi-jadian yang berkaitan dengan upaya mencari kekayaan secara cepat dan menghalalkan segala cara, termasuk meminta bantuan makhluk gaib. Melalui celeng, Butet Kartaredjasa mencoba menampilkan kritik tentang situasi yang aktual dalam pameran Goro Goro Bhineka Keramik yang digelar di Galeri Nasional Indonesia pada 30 November hingga 12 Desember mendatang.

"Di Jawa dikenal istilah pasemon, yakni suatu formulasi simbolik untuk mengungkapkan sesuatu dengan metafora, sindiran halus atau ungkapan-ungkapan tidak langsung sehingga pandangan setajam atau sepedas apapun dapat diterima dengan enteng dan gembira," ucap Butet di Jakarta belum lama ini.

Gerombolan celeng-celeng Butet Kartaredjasa. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)
Celeng Berbulu Beringin. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

 

Dalam pameran tersebut, Butet menampilkan banyak celeng dengan rupa warna dan motif yang berbeda, ada celeng loreng, celeng kuning, celeng berbulu zebra dan lain-lain. “Celeng berbaju loreng dan kuning inilah yang suka bikin goro-goro alias kekacauan. Mereka memang jago bikin perkara,” ujar Butet sambil tertawa.

Uniknya celeng-celeng yang suka membuat perkara tersebut ditampilkan Butet secara gerombolan atau dibuat seperti pasukan yang berbaris seperti pengikut atau jamaah yang siap diarahkan ke mana saja. Menurut Butet, merekalah celeng-celeng generasi baru yang siap mengendus, menyerunduk, memangsa lalu menelan apa saja ke dalam waduknya.

Selain celeng gerombolan tersebut, ada juga celeng yang menonjol dengan warna putih yang ditampilkan dengan glamor karena diletakan di puncak sebuah miniatur gunung bewarna emas.

Celeng tidak selalu buruk, lho. Celeng dapat juga dimaknai secara positif. Dia adalah lambang kekayaan dan kemakmuran. Atau babi sebagai sumber kolesterol yang lezat gurih nikmat. Saya memang suka yang lezat-lezat saja,” tandas Butet. (bas)

Celeng Kaki Emas. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

 

ads
Berita Terkait
Komentar

ads