ads

Cara Olga Lydia Gunakan Media Sosial Hingga Membentengi Diri dari Hoax

Article Olga Lydia. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

Olga Lydia punya cara sendiri dalam menggunakan media sosial. Menurutnya media sosial bisa digunakan untuk sesuatu yang positif. Media sosial juga erat kaitannya dengan hoax, dan cara untuk menghindarinya adalah menjauhkan diri dari berita yang mengandung ujaran kebencian.

JAKARTA-KABARE.CO: Olga Lydia, seorang model dan juga pembawa acara menilai, media sosial punya dampak yang besar bagi perempuan, baik itu positif ataupun negatif. Menurut dia, melalui media sosial banyak perempuan yang bisa lebih berdaya karena menggunakannya untuk berjualan.

“Tapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa ada orang yang kecanduan, sehingga yang harusnya produktif malah jadinya tidak produktif,” ucap Olga di sela acara Ngobras Perempuan dengan tema “Perempuan, Budaya & Sosmed” di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Lebih jauh dari itu, dia mengatakan, masyarakat masih membutuhkan literasi digital dalam arti membedakan informasi dengan berita bohong (hoax). Karena dewasa ini oknum-oknum yang membuat hoax sangat pintar sehingga sulit membedakan mana informasi yang benar dan hoax.

“Dengan tertangkapnya saracen membuat kita tahu bahwa ada produsen hoax secara profesional yang memproduksi hoax sebagai mata pencaharian. Mereka memang niat banget dan sangat bagus dalam membuatnya,” ujarnya.

Menurut dia, perang terhadap hoax bisa diprakarsai oleh para ibu-ibu yang menjadi agen perdamaian. “Beberapa konflik di Indonesia sudah membuktikan bahwa ibu-ibu punya peran penting mendamaikan konflik dan mudah-mudahan bisa menjadi agen perdamaian di media sosial,” kata Olga.

 

Cara membentengi diri dari hoax

Olga punya cara sendiri untuk membentengi dirinya dari hoax. Menurutnya salah satu cara efektif menangkal hoax adalah menjaukan diri dari berita yang mengandung unsur kebencian.

“Kalau beritanya ngeselin biasanya saya cuekin saja. Lagipula tidak ada waktu untuk mencari tahu berita itu benar atau tidak. Karena saya pikir kita harus produktif, bagaimana cara agar produktif ya kita fokus pada berita-berita yang positif,” urainya.

Walaupun begitu, bukan berarti dia menjadi menutup mata terhadap keseluruhan berita. “Berita mainstream tetap saya baca, tapi kalau berita yang membuat emosi yang isinya bukan informasi tapi memancing emosi biasanya saya sudah malas memeriksa, biasanya saya abaikan. Karena membuat kita tidak produktif, jadi jengkel seharian buat apa,” katanya menambahkan.

Selain membentengi diri, dia juga sangat berhati-hati saat menyebarkan berita, terutama yang negatif. Menurut dia, saat menyampaikan sesuatu yang buruk harus sangat berhati-hati, karena bisa merusak reputasi seseorang, bisa membuat orang menjadi jengkel atau membuat orang menjadi memiliki pandangan buruk terhadap sesuatu.

“Saya sangat hati-hati, di twitter saya bisa dibilang saya sangat hati-hati, saya selalu mengingat untuk tidak menyampaikan sesuatu yang buruk terhadap orang lain, dalam arti bentuknya persepsi dan saya berusaha menjaga itu,” kata Olga. (bas)

 

(Baca juga: Olga Lydia Sebut Perkembangan Film Indonesia Luar Biasa)

(Baca juga: Industri Film Punya Peran Penting Sebagai Penjaga Budaya)

(Baca juga: Bahasa Indonesia, Bahasa Plural yang Terus Berkembang)

ads
Berita Terkait
Komentar

ads